Pembinaan Spiritual

STT Jakarta didirikan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat dan Gereja di bidang teologi, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang terus meningkat (Statuta psl. 2 ay.1). Sebab itu STT Jakarta menjadi satu komunitas spiritual yang berakar pada Firman dan merefleksikannya dalam konteks. Dalam penampilannya lembaga ini diharapkan untuk mempersiapkan para pelayan yang:

  • tinggi ilmu, yaitu kemampuan untuk berpikir dan menalar secara dinamik, kreatif dan kritis dalam rangka menumbuh kembangkan persekutuan, kesaksian dan pelayanan gereja.
  • tinggi pengabdian, yaitu taat dan setia kepada panggilannya untuk melayani gereja dan masyarakat.
  • tinggi iman, yaitu memiliki kepribadian yang utuh dan kuat di tengah berbagai pergumulan dan tawaran-tawaran kenikmatan masyarakat yang majemuk.

Sebagai lembaga Perguruan Tinggi, STT Jakarta berorientasi pada pembentukan tiga bidang kegiatan yaitu: pembentukan akademik, praktikal dan spiritual, dalam rangka mengembangkan STT Jakarta sebagai satu masyarakat ilmiah bagi gereja dan masyarakat. Dalam kenyataannya tiga bidang ini kurang dilaksanakan secara seimbang. Bidang akademik sering lebih menonjol dari bidang praktikal, apalagi dibanding bidang spiritual. Faktanya, bidang yang terakhir ini sering mengalami hambatan dalam perkembangannya karena padatnya perkuliahan, apalagi dengan sistem SKS yang memacu mahasiswa untuk berjuang secara individual. Ditambah lagi dengan tidak tersedianya asrama untuk semua mahasiswa dalam kehidupan yang semakin ditandai pergeseran-pergeseran nilai dan moral masyarakat yang berubah-ubah.

Di lain pihak gereja-gereja dewasa ini membutuhkan calon-calon tenaga pelayanan yang memiliki disiplin spiritual yang memadai. Kebutuhan ini diharapkan agar dipenuhi oleh lembaga-lembaga pendidikan teologi. Hal ini berarti misi dan tugas pendidikan teologi perlu dihayati dan dikembangkan oleh seluruh sivitas akademika dalam suasana kekeluargaan. Sehingga secara khusus akan memberikan dasar dan motivasi bagi para mahasiswa untuk memperlengkapi diri dengan baik dan kelak menjadi pelayan yang berkualitas dalam pelayanan gereja dan masyarakat.</li>

STRATEGI PEMBINAAN

Bertolak dari tantangan yang dihadapi, maka pembinaan spiritual dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut:

A. Pembinaan Persekutuan di Kampus (Mahasiswa, Karyawan dan Dosen)

  1. Secara berkelompok melalui jalur:
  • Ibadah (di kampus dan di keluarga/ tempat kost)
  • Temu wicara
  • Kelompok Tumbuh Bersama
  • Retreat
  1. Secara pribadi melalui jalur formal dan informal.
  2. Pelayanan konsultasi.

B. Integrasi Pelayanan Bersama

Dengan Jemaat sekitar, melalui:

  • Program Bersama (seminar, lokakarya, dan sebagainya)
  • Bantuan Pelayanan (SM, KR, Pemuda, dan sebagainya)

Dengan masyarakat, melalui kegiatan:

  • antar kampus (Teologi, Kristiani, Umum)
  • lingkungan umum (Pemerintah, LSM, dan sebagainya)

C. Pengembangan Kurikulum

  • Untuk menjawab tantangan teologis dan harapan Gereja sesuai konteks
  • Untuk menempatkan perkuliahan, khususnya rumpun Praktika sebagai proses berlangsungnya pembentukan akademik, praktikal dan spiritual secara berimbang (disiplin dan ketertiban belajar mengajar)

D. Peningkatan hubungan dan saling mengisi antara gereja-gereja dan STT Jakarta melalui jalur:

  • Formal, dalam diri anggota Pengurus Yayasan dan para dosen
  • Informal, dalam program penjemaatan dari melalui Praktek Jemaat, Praktek Lapangan, Colegium Pastoral I & II. para mahasiswa.

BENTUK-BENTUK KEGIATAN

Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan sebagai kelanjutan dari kegiatan-kegiatan pembinaan spiritual selama ini adalah sebagai berikut:

A. Ibadah

Ibadah diartikan dalam arti luas adalah jawaban umat terhadap tindakan Tuhan dalam konteks. Dalam arti sempit ibadah adalah pertemuan umat dengan Tuhan, di tempat tertentu, dalam waktu dengan tata cara tertentu pula. Ibadah dalam arti sempit sebagai satu proses pembinaan spiritual dapat dilaksanakan dalam bentuk:

1. Ibadah:

  • Kebaktian awal dan akhir minggu
  • Doa pagi bersama
  • Doa kelas
  • Doa pribadi
  • Ibadah-ibadah eksperimental (misalnya, ibadah perjamuan kudus, hari-hari raya)

2. Kuliah dan diskusi:

  • Bersama
  • Kelompok

3. Penelaahan Alkitab:

  • Bersama
  • Kelompok

4. Retreat:

  • Bersama
  • Kelompok/Kelas

5. Pembinaan khusus karyawan (memberikan kelengkapan spiritual bagi yang Kristen maupun non-Kristen).

6. Pembinaan khusus mahasiswa (latihan-latihan spiritual, misalnya, dalam hal semadi dan retreat).

7. Pembinaan paguyuban (persekutuan) mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari satu gereja untuk menopang kebersamaan secara keseluruhan. Untuk itu perlu diadakan kerjasama dengan Gereja-gereja yang bersangkutan.

 

B. Bimbingan dan komunikasi

Agar tercipta relasi kekeluargaan antar unsur dalam rangka meningkatkan proses belajar mengajar serta motivasi dan panggilan pelayanan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk:

  1. Temu wicara: yaitu percakapan dari hati ke hati antar semua unsur secara berkala dalam bentuk kelompok besar maupun kecil, formal maupun informal.
  2. Kunjungan, untuk mempererat kekeluargaan sambil menyelami perasaan masing-masing dalam persekutuan. (Mahasiswa ke rumah dosen dan sebaliknya kunjungan ke pemondokan mahasiswa dan karyawan).
  3. Bimbingan dosen wali terhadap para mahasiswa.
  4. Bimbingan mahasiswa senior (semester 7-10 dan pascasarjana S2, S3) terhadap mahasiswa junior (semester 1-4).
  5. Pelayanan konsultasi baik yang dibuka secara formal di kampus, maupun melalui kunjungan keluarga (sakit, duka, syukur, dan sebagainya).
  6. Pelayanan kesejahteraan, misalnya pemeriksaan kesehatan, atau bantuan sosial secara selektif dan teratur.

C. Pelayanan Bersama

1. Integrasi dalam pelayanan Jemaat.

  • Membahas tema-tema tertentu yang relevan bagi jemaat setempat di Jakarta, sekaligus menjemaatkan peranan STTJ untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran teologi bersama jemaat-jemaat.
  • Memberikan bantuan pelayanan (misalnya melalui Sekolah Minggu, Remaja dan Pemuda) sekaligus mengembangkan diri dalam pergumulan-pergumulan jemaat setempat.
  • Melibatkan jemaat-jemaat sekitar untuk melayani kebutuhan kampus STT Jakarta, antara lain kehadiran para pendeta jemaat dalam memimpin ibadah-ibadah di kampus.

2. Kegiatan antar kampus untuk menumbuhkan pergaulan antar masyarakat ilmiah.

  • Pembahasan tema-tema tertentu yang relevan dan yang
  • menantang untuk lebih berperan secara bersama.
  • Pembinaan kerohanian melalui PA, doa, dan paduan suara.
  • Kegiatan-kegiatan menjalin persahabatan melalui olah raga dan retreat
  • kegiatan pertukaran belajar para mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman spiritual.

3. Kegiatan bersama masyarakat dalam rangka kepedulian sosial:

  • Pembahasan isu-isu sosial yang menonjol dengan pihak yang terkait.
  • Mengusahakan jaringan kerja pelayanan (pelayanan sosial) dengan masyarakat setempat dan lembaga yang berkepentingan (diusahakan laboratorium lapangan).